Orang yang kaya-raya dan orang yang miskin melarat sama-sama memupuk Sikap Sok Gengsi.
Senin, 31/01/2022
Dari: Domingos Maia.
Ada dua sisi ekstrim kehidupan manusia yang sebetulnya sama-sama miskin, tetapi berada di kutub yang berbeda: Satu di kutub Utara dan satu lagi di kutub Selatan. Mereka berada di tempat yang berbeda, tetapi diliputi oleh suasana kemiskinan yang sama.
Di dalam kenyataan hidup bersama ini, dapat diamati juga bahwa ada orang yang kaya-raya menganggap dirinya lebih hebat daripada yang lain sehingga dapat dilihat dari sikap dan tingkah lakunya itu cenderung suka merendahkan yang lain dan sulit untuk menerima penghinaan dari yang lain. Maka orang mengatakan: “Oh, sok gengsi, dia itu!”.
Tapi ada pula orang miskin-melarat yang menunjukkan sikap dan tingkah lakunya yang seolah-olah dia itu orang kaya. Pada hal kenyataannya tidak. Orang lalu mencibirnya dan mengatakan: “Alaaaah, dia itu kaya gaya apa, sih?”
Dalam kelompok dan masyarakat kita pun demikian.
Mari kita menyimak sebagai contoh dua kegiatan atau program “show” dan debat antara para pakar ilmu dan politisi melalui media TV GMN. Diambil saja dua contoh berikut ini:
1. Yang pertama, dari “Horta Show” satu atau dua bulan yang lalu di TV GMN – jika tidak salah. Tamu terhormat yang diundang pada dialog itu adalah Pastor Domingos, yang biasa disapa dengan nama sapaan Amu Maubere. Pada kesempatan itu, saya melihat lebih pada suatu dialog dari pada debat.
Ketika ditanya tentang keadaan ekonomi TL, Pastor Maubere memaparkan argumentasinya bahwa pendidikan lebih penting agar para orang muda yang mau mencari pekerjaan di luar negri demi memenuhi nafkah hidup diri dan keluarga tidak menjadi pekerja budak dan bosnya yang semakin menjadi kaya.
Maun Ramos Horta, dengan rendah hati, tidak menyanggah gagasan itu, tetapi mengatakan bahwa yang menjadi prioritas saat ini adalah pertanian. Dan menjelaskan juga bahwa kalau pendapatan rakyat itu cukup maka akan memperbaiki gizi dan kesehatan seseorang sehingga akan memungkinkannya untuk belajar dengan lebih baik.
Dalam dialog ini tercium sesuatu yang barangkali tidak atau belum disadari bahwa pola pendidikan pada umumnya sekarang ini masih sama seperti dahulu kala, pada masa penjajahan, tidak mengarahkan orang untuk menyadari keadaan dirinya itu miskin dan bahwa dia juga masih hidup di dalam masyarakat yang sok gengsi, sok kaya, padahal memang ia masih miskin.
Ada filsafah hidup dalam masyarakat yang mengatakan bahwa “servisu hanesan atan, atu bele han hanesan liurai”; artinya bekerjalah seperti orang budak agar nantinya bisa makan seperti seorang raja. Dan itu bukan bermaksud untuk membudakkan diri.
2. Hal yang kedua, kita coba untuk menyimak konteks debat antara kubu CNRT vs kubu Khunto. Yang diperdebatkan ialah soal pengiriman tenaga kerja kaum muda ke luar negeri, itu dipandang oleh CNRT sebagai hinaan bagi Pemerintah bagi sedangkan bagi kaum muda itu bahwa syarat yang diutamakan adalah fisik. Pada hal masih ada hal lain yang lebih penting, misalnya: Mengapa seseorang yang mau mencari duit di luar negeri, karena tidak punya, masih dituntut harus membayar dulu sekitar tiga ratusan dolar amerika? Ini tidak mudah untuk anak rakyat jelata; dan ini yang seharusnya menjadi masalah untuk dipecahkan Pemerintah.
Dalam konteks ini pun masih dianggap sebagai suatu penghinaan?
Patut dipertanyakan: Siapa yang menghina dan siapa yang dihina atau menghina diri dalam hal ini? Sedangkan jika kita melihat situasi dan kondisi nyata saat ini, mestinya kita harus berani mengakui bahwa kebanyakkan orang muda masih enggan akan jenis-jenis pekerjaan berat apalagi dengan kebiasaan mereka sendiri yang kurang/tidak menjaga kondisi kesehatan fisiknya; hal ini justru akan memperlemah dan membuat orang muda tak mampu secara mental untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja berat yang baru. Jadi masuk akal kalau harus menyiapkan mental dan fisik orang muda kita agar mereka berani menerima pekerjaan berat dan juga sanggup melakukannya. Dan hasilnya tidak disangkal selama ini bahwa 80% yang tergolong sukses dari mereka adalah yang telah berhasil melaksanakan pekerjaan di luar negeri. Kebanyakan dari mereka setelah kurang-lebih satu tahun bekerja di luar, mereka pulang atau hanya mengirimkan uang untuk bisa mendirikan rumah mewah dan dapat membeli juga kendaraan beroda empat.
Dengan demikian orang benar-benar menjunjung tinggi prinsip kita bahwa harus memeras dulu keringat untuk meraih keberhasilan dalam melakukan suatu pekerjaan yan berat dan berani pula menerima resiko jadi pekerja budak untuk meraih kedudukan sebagai seorang raja (hikis uluk kosar-been no servisu ulun nú atan ou a lei do menor esforço).
Jadi dengan demikian dapat disimpulkan bahwa:
1. Sikap sok gengsi itu adalah dosa dan merupakan pekerjaan setan agar orang menjadi malas dan terjerumus ke dalam cobaan dan perbuatan-perbuatan senonoh yang membawa malapetaka kepada hidup pribadi, keluarga maupun masyarakat.
2. Dengan demikian pola pendidikan yang benar dan seharusnya adalah mengarahkan orang untuk menerima nilai kerja sekalipun itu akan menuntut banyaknya pengorbanan. Karena
pekerjaan itu sekaligus menjadi upah dosa dan rahmat keselamatan Tuhan Allah bagi umat manusia.
3. Sebagai orang beriman kita seharusnya memupuk sikap iman yang benar terhadap nilai kerja dan pekerjaan sebagai wujud doa yang nyata: “Ora et Labora”.
4. Dalam debat antar oposisi, masing-masing pihak akan menyampaikan argumentasinya yang bersifat ilmiah, logis dan faktual; dan tidak selamanya seorang oposisi terus dalam gagasan yang selalu benar.
5. Kebenaran itu hanya satu, tetapi dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang yang berbeda dan tidak harus dimonopoli oleh satu orang ahli debat atau satu pihak tertentu atau satu kelompok orang saja. Maka harus ada sikap saling toleransi dan menghormati dalam perbedaan pendapat, meskipun ada yang berpendapat bahwa dalam politik tidak ada yang kalah dan yang menang (na política não há derrota nem rendição).
Dan bilamana dapat mengalahkan sifat sok gengsi orang-orang dalam masyarakat kita? Harus dengan sikap rendah hati menerima dulu keadaannya agar dapat maju dan berhasil.




